Home >Documents >KOMPARASI EFISIENSI PERBANKAN SYARIAH DAN

KOMPARASI EFISIENSI PERBANKAN SYARIAH DAN

Date post:28-Nov-2021
Category:
View:0 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
KOMPARASI EFISIENSI PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN
KONVENSIONAL DI INDONESIA
*[email protected] 1
Abstract
The purpose of this study was to: (i) acknowledge and examine the differences between the financial
performance of Islamic banking with conventional banking, (ii) to analyze and explain the differences in efficiency
levels between Islamic banking and conventional banking (iii) analyze and compare the efficiency of Islamic
banking with banks conventional. The population used in this study is a commercial bank in Indonesia with 124
banking institutions with the details of five state banks and 119 private banks. sample of banking institutions in this
study are 5 government-owned banking institution (s) and 12 institutions of Islamic banks. The method of analysis
used in quantitative research is descriptive (analytic). Measurement and test efficiency and efficiency ratio of the
difference of Islamic banking from conventional banking to use Supplier Data Analysis (DEA) and two different test
mean (t-test). The results showed during the observation period 2012-2016, economic activities (banking) of Islamic
banks are relatively more efficient than conventional banks
Keywords: comparative, efficiency, financial performance
Pendahuluan
penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta
bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan
undang, struktur perbankan di Indonesia, terdiri atas
bank umum dan BPR. Perbedaan utama bank umum
dan BPR adalah dalam hal kegiatan operasionalnya.
BPR tidak dapat menciptakan uang giral, dan memiliki
jangkauan dan kegiatan operasional yang terbatas.
Selanjutnya, dalam kegiatan usahanya dianut dual
bank system, yaitu bank umum dapat melaksanakan
kegiatan usaha bank konvensional dan atau
berdasarkan prinsip syariah. Sementara prinsip
kegiatan BPR dibatasi pada hanya dapat melakukan
kegiatan usaha bank konvensional atau berdasarkan
prinsip syariah.
sampai November 2016 terdiri dari 118 Bank Umum
dan 1.796 Bank Perkreditan Rakyat. Adapun jumlah
Bank Umum dengan rincian: (1) Bank Pemerintah
sebanyak 5 institusi dan (2) Bank Swasta, terdiri dari:
(a) Bank Pembangunan Daerah sebanyak 26 institusi
dan BPD unit syariah sebanyak 15 institusi (b) Bank
Umum Swasta sebanyak 88 institusi dan Bank Umum
Swasta Unit Usaha Syariah sebanyak 21 institusi serta
(c) Bank Umum Swasta Syariah sebanyak 13 institusi.
Sementara Bank Perkreditan Rakyat terdiri dari 1.632
institusi BPR konvensional dan 164 institusi BPR
syariah (OJK, 2016)
penyaluran dana, asset, permodalan dan kinerja. Pada
November 2016, melaporkan bahwa penghimpunan
dana Bank Umum dari masyarakat mencapai
Rp.1.939,20 T, pada Mei 2016 mengalami kenaikan
menjadi sebesar Rp.1.942,20 T. Sementara dari item
penyaluran dana, pada November 2015 Bank Umum
telah menyalurkan kredit kepada masyarakat sebesar
1.353,60 T, kemudian November 2016 mengalami
penurunan menjadi sebesar 1.339,20 T. Sedangkan
dari indikator asset, Bank Umum di Indonesia pada
November 2015 memiliki asset total sebesar
Rp.2.310,60 T, kemudian pada November 2016
mengalami penurunan asset yang tidak siginifikan
Rosyadi/ 2017
menjadi sebesar Rp.2.309,80 T. Selanjutnya, dari
aspek permodalan, Bank Umum di Indonesia pada
November 2015 memilki permodalan sebesar
Rp.219,20 T, kemudian pada November 2016,
permodalan Bank Umum mengalami kenaikan cukup
siginifikan menjadi sebesar Rp.319,40 T. Terakhir dari
item kinerja Bank Umum, pada November 2016
menunjukan bahwa Non Performing Loan (NPL)
sebesar 3,80% dan membukukan laba sebesar
Rp.48,10 T dengan Net Interest Margin sebesar
Rp.10,80 T
2016 terdapat 13 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit
Usaha Syariah (UUS), dan 164 Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS). Hingga Februari 2017 jumlah
BUS tidak mengalami peningkatan, demikian juga
dengan UUS dan BPRS. Seiring dengan meningkatnya
jaringan kantor bank, pada periode 2015-2016 industri
ini mengalami peningkatan volume usaha (aset) cukup
signifikan, dari Rp 272,343 triliun pada November
2015 menjadi Rp 339,343 triliun pada November
2016. Pada akhir tahun 2017 diproyeksikan pangsa
perbankan syariah bisa mencapai tiga persen dengan
nilai aset sekitar Rp 400 trilyun hingga Rp 450 triliun.
Setidaknya ada tiga faktor pemicu pertumbuhan ini.
Pertama, masuknya beberapa bank umum syariah
(BUS) baru, kedua, pesatnya bisnis BUS lama, dan
ketiga, target peningkatan bisnis Unit Usaha syariah
(UUS) sekitar 40 hingga 50.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK)
perbankan syariah juga meningkat dari Rp 217,858
triliun pada November 2015 menjadi Rp 270,480
triliun pada November 2016. Kegiatan penyaluran
dana melalui pembiayaan yang diberikan perbankan
syariah juga meningkat dari Rp 212,996 triliun pada
November 2015 menjadi Rp 240,381 triliun pada
November 2016. Berdasarkan jenis penggunaannya,
sebagian besar pembiayaan masih terfokus pada tiga
jenis pembiayaan, yakni piutang murabahah 59,24
persen, pembiayaan mudharabah 19,96 persen, dan
pembiayaan musyarakah sebesar 15,77 persen.
Pertumbuhan pembiayaan yang masih cukup tinggi
dalam kondisi sektor riil yang kurang kondusif akibat
meningkatnya tekanan inflasi, berdampak pada
meningkatnya jumlah pembiayaan bermasalah atau
non-performing financing (NPF) (Makmun, 2008).
OJK (2016) melaporkan bahwa pada akhir
2015 NPF perbankan syariah bertahan pada level
terkendali, rasio NPF (gross) sebesar 2,55 persen.
Namun, pada akhir 2017 meningkat menjadi 3,26
persen. Dari sesi profitabilitas, pada 2015 perbankan
syariah mampu mencatatkan tingkat keuntungan Rp
1.786 miliar, meningkat menjadi Rp 2.771 miliar pada
2016. Sejalan dengan peningkatan profitabilitas ini,
rasio keuntungan terhadap aset yang dikelola
meningkat dari 0,49 persen pada 2016 menjadi 0,67
persen tahun 2017.
diterapkan sejak 1991 yang diawali dengan berdirinya
Bank Muamalat Indonesia (BMI). Pada awal
berdirinya, BMI belum mendapatkan perhatian yang
luas. Dalam perjalanannya, terutama sejak MUI
mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank, bank
berbasis Syariah bermunculan yang diikuti dengan
munculnya lembaga keuangan berbasis syariah
lainnya, seperti asuransi syariah, walaupun belum
menjamur seperti bank syariah. Dalam tiga tahun
terakhir industri perbankan syariah mengalami
perkembangan yang pesat dan diiringi dengan
meningkatnya kompleksitas permasalahan dan
adalah terletak pada pengembalian dan pembagian
keuntungan yang diberikan oleh nasabah kepada
lembaga keuangan dan/atau yang diberikan oleh
lembaga keuangan kepada nasabah (Muhammad,
2005). Kegiatan operasional bank syariah
menggunakan prinsip bagi hasil (profit and loss
sharing). Bank syariah tidak menggunakan bunga
sebagai alat untuk memperoleh pendapatan maupun
membebankan bunga atas penggunaan dana dan
pinjaman karena bunga merupakan riba yang
diharamkan.
melalui monitoring atas jumlah bagi hasil yang
diperoleh. Jumlah keuntungan bank semakin besar
maka semakin besar pula bagi hasil yang diterima
nasabah, demikian juga sebaliknya. Jumlah bagi hasil
yang kecil atau mengecil dalam waktu cukup lama
menjadi indikator bahwa pengelolaan bank merosot.
Keadaan itu merupakan peringatan dini yang
transfaran dan mudah bagi nasabah. Berbeda dari
perbankan konvensional, nasabah tidak dapat menilai
kinerja hanya dari indikator bunga yang diperoleh.
Kondisi perbankan syariah pada tahun
mendatang diperkirakan akan terus membaik. Ini
Rosyadi/ 2017
terbukti dengan masih tingginya minat masyarakat
terhadap perbankan syariah. Dalam rangka
peningkatan jangkauan melalui kemudahan untuk
membuka kantor pelayanan, diharapkan dapat
memberikan pengaruh pada minat masyarakat. Di sisi
lain, secara internasional peluang memanfaatkan
investasi asing, khususnya dari Timur Tengah ke
dalam sistem perekonomian Indonesia masih terbuka
lebar.
system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka
Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk
menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin
lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara
bersama-sama, sistem perbankan syariah dan
perbankan konvensional secara sinergis mendukung
mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk
meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-
sektor perekonomian nasional.
beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan
alternatif sistem perbankan yang saling
menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta
menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi,
investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai
kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan
menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi
keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta
layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema
keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah
menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan
dapat dinimati oleh seluruh golongan masyarakat
Indonesia tanpa terkecuali.
hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil
serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor
tersebut. Semakin meluasnya penggunaan produk dan
instrumen syariah disamping akan mendukung
kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan
mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat
keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya
akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
pencapaian kestabilan harga jangka menengah-
panjang.
industri perbankan syariah nasional semakin memiliki
landasan hukum yang memadai dan akan mendorong
pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan
progres perkembangannya yang impresif, yang
mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65%
pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan
peran industri perbankan syariah dalam mendukung
perekonomian nasional akan semakin signifikan.
Sehingga dapat dirumuskan masalah yaitu: (1) Apakah
ada perbedaan siginifikan antara kinerja keuangan
Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional?
(2) Apakah ada perbedaan signifikan antara tingkat
efisiensi Perbankan Syariah dengan Perbankan
Konvensional? dan (3)Apakah Perbankan Syariah
lebih efisien dibandingkan dengan Perbankan
Konvensional?
kinerja keuangan Perbankan Syariah dengan
Perbankan Konvensional; (2) Untuk menganalisis dan
menjelaskan perbedaan tingkat efisiensi antara
Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional
dan (3) Menganalisis dan membandingkan tingkat
efisiensi antara Perbankan Syariah dengan Perbankan
Konvensional
material dan alat) yang minimal (Daft, 2007; Griffin,
2004). Efisiensi merupakan rasio antara input dan
output, dan perbandingan antara masukan dan
pengeluaran. Apa saja yang dimaksudkan dengan
masukan serta bagaimana angka perbandingan tersebut
diperoleh, akan tergantung dari tujuan penggunaan
tolok ukur tersebut. Secara sederhana, menurut
Nopirin (1997) efisiensi dapat berarti tidak adanya
pemborosan.
perbandingan output dan input berhubungan dengan
tercapainya output maksimum dengan sejumlah input,
artinya jika rasio output input besar maka efisiensi
Rosyadi/ 2017
dikatakan semakin tinggi. Atau dengan kalimat lain,
efisiensi adalah penggunaan input yang terbaik dalam
memproduksi barang.
antara output dan input. Sedangkan menurut Banker et
al., (1984) efisiensi merupakan salah satu kriteria
penting dalam menentukan seberapa besar input yang
digunakan untuk menghasilkan output yang
diinginkan. Lebih lanjut Cooper et al., (2000);
Andersen & Petersen (1993) menjelaskan bahwa ada
tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu apabila
dengan input yang sama menghasilkan output yang
lebih besar dengan input yang lebih kecil
menghasilkan output yang sama dan dengan input
yang besar menghasilkan output yang lebih besar.
Yotopoulos dan Nugent (1976), Cooper et al.,
(2000) dan Talluri (2000); membedakan efisiensi
menjadi tiga konsep yaitu:
Cooper et al., (2002); Bhat et al., (1996); Bowlin
(1998) efisiensi teknik mengenai hubungan
antara input dan output. Perusahaan dikatakan
efisien secara teknik jika produksi dengan output
terbesar yang menggunakan satu set kombinasi
beberapa input;
Efisiensi alokatif menunjukkan hubungan biaya
dan output. Efisiensi alokatif tercapai jika
perusahaan tersebut mampu memaksimumkan
setiap faktor produksi dengan harganya dan
(3) Efisiensi ekonomi (economic efficiency).
Efisiensi ekonomi merupakan produk dari
efisiensi teknik dan efisiensi harga. Jadi efisiensi
ekonomis dapat dicapai jika kedua efisiensi
tercapai.
makro yang mempunyai jangkauan lehih luas
dibandingkan dengan efisiensi teknik yang bersudut
pandang mikro. Pengukuran efisiensi teknik cenderung
terbatas pada hubungan teknik dan operasional dalam
proses konversi input menjadi output. Akibatnya,
usaha untuk meningkatkan efisiensi teknis hanya
memerlukan kebijakan mikro yang bersifat internal,
yang dengan pengendalian dan alokasi sumber daya
yang optimal. Dalam efisiensi ekonomis, harga tidak
dapat dianggap given, karena harga dapat dipengaruhi
oleh kebijakan makro (Nicholson, 1995).
Efisiensi ekonomis akan tercapai jika terpenuhi
dua kondisi berikut (Doll & Orazen, 1984) dalam
Indah Susantun (2000) yaitu :
output bahwa proses produksi antara 0 dengan 1.
Hal ini merupakan efisiensi produksi secara
teknik dan
nilai produk marjinal sama dengan biaya
marjinal. Menurut Yotopoulos dan Lou (1973)
dalam lndah Susantun (2000) efisiensi ekonomi
tercapai jika kedua efisiensi yaitu teknik dan
harga tercapai.
analisis Data Envelopment Analysis (DEA) yang
memiliki karakter berbeda dengan konsep efisiensi
pada umumnya (yang diestimasi dengan pendekatan
parametrik). Ada beberapa alasan mengapa alat
analisis DEA dapat dipakai untuk mengukur efisiensi
suatu proses produksi yaitu: (1) efisiensi yang diukur
adalah bersifat teknis, bukan ekonomis. Hal ini
dimaksudkan bahwa, analisis DEA hanya
memperhitungkan nilai absolut dari suatu variabel.
Satuan dasar pengukuran yang mencerminkan nilai
ekonomis dari tiap-tiap variabel seperti harga, berat,
panjang, isi dan lainnya tidak dipertimbangkan. Oleh
karenanya dimungkinkan suatu pola perhitungan
kombinasi berbagai variabel dengan satuan yang
berbeda-beda; (2) nilai efisiensi yang dihasilkan
bersifat relatif atau hanya berlaku dalam lingkup
sekumpulan UKE (Unit Kegiatan Ekonomi) yang
diperbandingkan (Talluri, 2000). Selanjutnya efisiensi
untuk mengukur kinerja proses produksi dalam arti
yang luas dengan mengoperasionalkan variabel-
variabel yang mempunyai satuan yang berbeda-beda,
yang kebanyakannya seperti dalam pengukuran
barang-barang publik atau barang yang tidak
mempunyai pasar tertentu (non-traded goods) maka
alat analisis DEA merupakan pilihan yang paling
sesuai (Cooper et al., 2002).
Data Envelopment Analysis (DEA)
sebuah pendekatan non parametrik yang pada dasarnya
merupakan teknik berbasis linier programming. DEA
bekerja dengan langkah mengidentifikasi unit-unit
yang akan dievaluasi, input serta output unit tersebut.
Rosyadi/ 2017
Kemudian menghitung nilai produktivitas dan
mengidentifikasi unit mana yang tidak menggunakan
input secara efisien atau tidak menghasilkan ouput
secara efektif. Produktivitas yang diukur bersifat
komparatif atau relatif karena hanya membandingkan
antar unit pengukuran dari 1 set data yang sama.
Dalam penelitian ini analisis DEA ditujukan untuk
mengukur efisiensi Perbankan konvesional maupun
perbankan syariah (memfokuskan pada identifikasi
penambahan output yang diperlukan untuk mencapai
kondisi DEA dengan mempertahankan input yang
dimiliki saat ini)
inefisiensi teknik karena menggunakan lebih banyak
input dari yang dibutuhkan pada tingkat ouput efisiensi
frontier. Titik B efisiensi teknik tetapi tidak efisien
biaya karena pada tingkat ourput yang sama dapat
memproduksi kurang dari biaya pada point C. Jika
suatu organisasi bergerak dari titik A ke titik C
efisiensi biaya akan meningkat (OA' - OA")/ OA'. Hal
ini akan memperbaiki pengukuran efisiensi pada (OA'
- OA) / OA dan efisiensi harga meningkat pada (OA -
OA") / OA. Efisiensi teknik biasanya diukur dengan
melihat apakah input perlu dikurangi secara
porposional untuk mencapai batas. Ini dikenal dengan
nama konstrak radial input karena titik operasinya
bergerak sepanjang garis dari titik origin sampai
dimana organisasi berada.
akan dapat dikatakan efisien apabila: (1)
Mempergunakan jumlah unit input yang lebih sedikit
dibandingkan jumlah unit input yang digunakan oleh
perusahaan lain dengan menghasilkan jumlah output
yang sama, (2) Menggunakan jumlah unit input yang
sama, tetapi dapat menghasilkan jumlah output yang
lebih besar.
diproduksi oleh obyek k
oleh obyek k
dihasilkan oleh obyek k
vrk : adalah bobot input r yang diberikan
oleh obyek k, dan r dihitung dari 1 ke m serta i
ihitung dari 1 ke n.
Persamaan diatas menunjukkan adanya
efisiensi (hs), kemudian dimaksimalkan dengan
kendala sebagai berikut (Talluri et al., 2000):




dimana, N menunjukkan jumlah obyek dalam sampel.
Pertidaksamaan pertama menunjukkan adanya
sementara pertidaksamaan kedua berbobot positif.
Angka rasio akan bervariasi antara 0 sampai dengan 1.
Obyek dikatakan efisien apabila memiliki angka rasio
mendekati 1 atau 100 persen, sebaliknya jika
mendekati 0 menunjukkan efisiensi obyek yang
semakin rendah.
Rosyadi/ 2017
Talluri et al., 1997) :
Efisiensi pada masing-masing input dihitung
menggunakan programasi linier dengan
obyek k. Kendala jumlah input yang dibobot harus
sama dengan satu untuk obyek k, sedangkan kendala
untuk semua obyek, yaitu jumlah output yang dibobot
dikurangi jumlah input yang dibobot harus kurang atau
sama dengan 0. Hal ini berarti semua obyek akan
berada atau dibawah referensi kinerja frontier yang
merupakan garis lurus yang memotong sumbu origin
(Purwantoro, 2003).
antara total input tertimbang. Dimana setiap UKE
diasumsikan bebas menentukan bobot untuk setiap
variabel-variabel input maupun variabel output yang
ada, asalkan mampu memenuhi dua kondisi yang
disyaratkan yaitu (Cooper et al., 2000) :
(a) Bobot tidak boleh negatif
(b) Bobot harus bersifat universal atau tidak
menghasilkan indikator efisiensi yang di atas
normal atau lebih besar dari nilai 1 bilamana
dipakai UKE yang lainnya.
maksimal, maka setiap UKE cenderung memiliki pola
untuk menetapkan bobot tinggi pada input yang sedikit
digunakan, dan pada output yang banyak dihasilkan.
Dimana bobot yang dipilih tersebut tidak semata-mata
menggambarkan suatu nilai ekonomis, tetapi lebih
merupakan suatu kuantitatif rencana untuk
memaksimalkan efisiensi UKE bersangkutan. Suatu
UKE dikatakan efisien seeara relatif, bilamana nilai
dualnya sama dengan 1 (nilai efisiensi = 100 %).
Sebaliknya bila nilai dualnya kurang dari 1, maka
UKE bersangkutan dianggap tidak efisien secara relatif
(Bhat et al., 2003).
Yumanita (2007) dengan tujuan membandingkan
tingkat efisiensi Perbankan Syariah di Indonesia dan
Malaysia menunjukan hasil bahwa secara overall
efficiency Perbankan Syariah di Indonesia memiliki
tingkat efisiensi yang lebih tinggi (0,724)
dibandingkan Malaysia (0,684). Sementara secara
scale efficiency, Malaysia memiliki tingkat efisiensi
(0,919) yang lebih tinggi dibandingkan dengan
Indonesia (0,867). Untuk mengukur dan menganalisis
tingkat efisiensi Perbankan Syariah Indonesia Dan
Malaysia, peneliti menggunakan
memasukan deposit, labor dan assets sebagai variabel
input serta financing dan income sebagai variabel
output.
analisis efisiensi Bank Umum Syariah dan Bank
Umum Konvensional yang memiliki Unit Usaha
Syariah di Indonesia menunjukan bahwa: (a) periode
1999-2004 tingkat efisiensi pada maksimal input-
output dengan asumsi CRS, kedua kategori perbankan
tersebut memiliki tingkat efisiensi yang sama yaitu
100% apabila dilakukan perhitungan dengan
menggunakan bank yang efisien sebagai rujukan
kepada bank yang belum efisien agar lebih efisien.
Sehingga tidak ada perbedaan antara kedua perbankan
tersebut, (b) Bank Umum Syariah yang memiliki
tingkat efisiensi yang paling tinggi adalah Bank
Syariah Mandiri dan diurutan berikutnya adalah Bank
Muamalat Inodnesia (BMI). Penelitian menggunakan
alat analisis Data Envelopment Analysis (DEA) dengan
memasukan beban bunga/beban bagi hasil, biaya lain-
nya dan asset sebagai variabel input serta pendapatan
bunga/pendapatan operasi utama, pendapatan lain-nya,
dan kredit sebagai variable output.
Metode Penelitian
adalah Bank Umum yang ada di Indonesia dengan
jumlah 124 institusi bank dengan rincian 5 bank
pemerintah dab 119 bank swasta. Institusi perbankan
yang dijadikan sampel dalam penelitian adalah 5
institusi bank milik pemerintah (persero) dan 3
institusi bank umum syariah. Sampel secara rinci dapat
dipaparkan dalam tabel sebagai berikut:
Rosyadi/ 2017
Keterangan Jumlah
Indonesia periode Maret 2012 – Februari 2016, dengan
periode publikasi laporan keuangan per-triwulan.
Teknik Pengumpulan Data
pengumpulan data arsip (archival) yaitu teknik
pengumpulan data di basis data (Jogiyanto, 2006)
Definisi Operasional dan Pengukuran-nya
bahwa pengoperasionalan konsep (operationalizing
konsep secara operasi adalah men-jelaskan
karakteristik dari obyek (properti) kedalam elemen-
elemer (elements) yang dapat diobservasi yang
menyebabkan konsep dapat diukur dan
dioperasionalkan di dalam riset.
adalam penelitian ini adalah:
yang diperoleh dari financing (pembiayaan) dan
income (laba sedang berjalan)
diperoleh dari deposit (dana pihak ketiga),
labor (biaya tenaga kerja) dan assets (aktiva
perusahan).
(Capital Adequacy Ratio) yaitu modal inti dan
modal pelengkap terhadap jumlah Aktiva
Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) atau
secara singkat dapat diformulasikan sebagai
berikut:
pelengkap; CAR adalah Capital Adequacy Ratio;
ATMR adalah aktiva tertimbang menurut risiko.
(d) ROA (Return On Assets) yaitu rasio laba
terhadap total aktiva. Atau secara singkat dapat
diformulasikan sebagai berikut:
sebelum pajak; dan TA adalah total asset.
(e) BOPO yaitu perbandingan biaya operasional
dengan pendapatan operasional. Atau secara
singkat dapat diformulasikan sebagai berikut:
%100 TPO
TBO BOPO
operasional; TBO adalah total beban operasional; dan
TPO adalah total pendapatan operasional.
(f) FDR (Financing to Deposits Ratio) yaitu
perbandingan kredit yang diberikan dengan
dana yang diterima. Atau secara singkat dapat
diformulasikan sebagai berikut:
dan DPK adalah dana pihak ketiga.
(g) Rasio NPL = (Kredit dalam kualitas Kurang
lancar, Diragukan dan Macet) / Total Kredit.
Atau secara singkat dapat diformulasikan
sebagai berikut:
adalah kredit dalam kualitas macet; TK adalah total
kredit yang diberikan kepada pihak ketiga
Alat Analisis Data dan Pengujian
Pengukuran efisiensi Perbankan Syariah dan
Perbankan Konvensional menggunakan Data
Rosyadi/ 2017
variabel input yaitu: (i) deposit (dana pihak ketiga) dan
(ii) labor (biaya personalia). Sedangkan variabel
outputnya terdiri dari; (i) financing (besar dana pihak
ke-tiga yang disalurkan ke masyarakat); (ii) income
(laba sedang berjalan). Sedangkan untuk menganalisis
ada tidak-nya perbedaan kinerja kedua kelompok bank
menggunakan alat analisis dan pengujian t (t-test)
dengan metode independet sample T-test. Selanjut-nya
untuk menganalisis dan mengetahui ada tidak-nya
perbedaan efisiensi (overall efficiency, tekhnical
efficiency, dan scale efficiency) kelompok bank syariah
dengan kelompok bank konvensional digunakan
pengujian test group dengan menggunakan dua teknik
pengujian yaitu parametrik meliputi: (i) anova test
(signifikansi F) dan (ii) uji beda dua mean statistik (t-
test) dan non-parametrik dengan menggunakan metode
mann-whitney.
perhitungan rasio-rasio yang sumber-nya diperoleh
dari angka-angka yang tecantum pada neraca keuangan
dan laporan laba-rugi suatu bank, selanjutnya rasio-
rasio itu disebut sebagai rasio keuangan. Selanjutnya
rasio keuangan digunakan sebagai dasar untuk
mengetahui kinerja bank. Adapun perhitungan rasio
keuangan yang digunakan dalam penelitian adalah,
Capital adequacy ratio (CAR); Return on Asset (ROA);
Biaya Operasional-Pendapatan Operasional (BOPO);
Deposits Ratio (FDR).
Hasil dan Pembahasan
Output Input
statistik perbankan indonesia (SPI) periode Desember
2004 sampai dengan Desember 2008 yang
dipublikasikan melalui website Bank Indonesia. Bank
konvensional yang dipilih sebagai objek penelitian ini
adalah Bank umum milik pemerintah atau bank
persero yang terdiri dari Bank Mandiri (BM), Bank
Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia
(BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) serta
perbankan syariah yang terdiri dari Bank Syariah
Mandiri (BSM), Bank Muamalat Indonesia (BMI), dan
Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI).
Tabel 1. menunjukan kinerja bank
konvensional (Panel A.) dan Bank Syariah (Panel B).
Pengukuran kinerja didasarkan pada lima rasio
keuangan bank,…

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended